Buruknya Kebiasaan Buang Sampah Masyarakat Indonesia

Artikel

Buruknya Kebiasaan Buang Sampah Masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia memiliki kebiasan membuang sampah yang buruk. Dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 67,8 juta ton di 2021. Sementara menurut Forbes, Indonesia juga termasuk negara penghasil sampah plastik di laut paling banyak nomor dua, yaitu sebesar 56,3 juta ton.

Kondisi ini terjadi karena rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab. Kemudian masih banyaknya kebiasaanĀ buang sampah sembaranganĀ menjadi salah satu faktor penyebab jumlah sampah terus meningkat.

Sebagaimana dikutip dari laman Kompas.com, Sosiolog Drajat Tri Kartono menyebut kebiasaan buang sampah yang tidak tepat ini tumbuh karena kurangnya rasa tanggung jawab dan menganggap sampah tidak berguna. Selain itu, masih banyak masyarakat yang berpikir jika urusan sampah menjadi tanggung jawab tukang sampah saja. Bukan pada dirinya masing-masing.

Kebiasaan buang sampah sembarangan ini masih sering dijumpai di tengah masyarakat. Kebiasaan buang sampah masyarakat Indonesia yang buruk ini tentu tidak baik bagi lingkungan. Lalu apa saja kebiasaan buruk buang sampah masyarakat Indonesia? Berikut beberapa kebiasaan buruk masyarakat saat membuang sampah:

  1. Membakar Sampah

Masyarakat memiliki kebiasaan membakar sampahĀ mereka, terutama mereka yang tinggal di pinggir kota. Sebagaimana dikutip dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul ā€œStatistik Potensi Desa Indonesiaā€, disebutkan bahwa 70,5 persen warga desa/kelurahan, membuang sampah dengan cara dibakar atau dikubur ke dalam lubang.

Kebiasaan ini terjadi akibat kurangnya kesadaran mengelola sampah. Minimnya fasilitas tempat pembuangan sampah sementara juga menjadi faktor penyebab masyarakat membakar sampah di dekat rumah masing-masing. Padahal, kebiasaan membakar seperti ini memiliki dampak yang berbahaya.

Membakar sampah rumah tangga yang biasanya terdiri dari plastik, dan memiliki berbahaya bagi lingkungan, karena bahan-bahan tersebut melepaskan bahan kimia beracun yang mencemari udara.

Selain itu, udara yang tercemar karena asap pembakaran juga bisa dihirup oleh manusia dan hewan, disimpan di tanah, serta terpapar ke permukaan air dan tanaman. Residu dari pembakaran mencemari tanah dan air tanah sehingga merusak lingkungan.

  1. Mengubur Sampah Anorganik ke Dalam Tanah

Masih berdasarkan laporan BPS,Ā  masyarakat Indonesia memiliki kebiasan membuang sampah ke lubang yang digali di tanah lalu menguburnya. Tercatat baru 16.626 desa/kelurahan yang memiliki tempat pembuangan sampah sementara, itupun masih ada masyarakat yang memilih memasukkan sampah ke lubang tanah dan menguburnya. Kebiasaan buruk ini didorong karena Ketersediaan lahan di halaman belakang rumah, dan kurangnya pengetahuan soal cara pengelolaan sampah yang benar.

Hal ini berbeda jika yang dikubur adalah sampah organik, maka risiko dampak buruk ke lingkungan bisa diminimalkan dengan kompos. Namun, jika sampah-sampah anorganik juga dikubur, justru akan merusak ekosistem dan mengurangi kesuburan tanah. Apalagi sampah anorganik sulit untuk diuraikan, sehingga akan berada di tempat yang sama selama puluhan tahun.Ā 

  1. Membuang Sampah ke SungaiĀ 

Membuang sampah ke sungai menimbulkan banyak masalah. Kebiasaan ini selain merusak ekosistem sungai, juga menganggu kegiatan sehari-hari masyarakat. Sebagaimana dikutip dari laman Suara.com, 2,6 juta ton sampah dibuang ke aliran sungai. DiĀ Sungai CitarumĀ misalnya, per harinya ada 15.838 ton sampah dibuang di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Selain Citarum, sampah di Sungai Ciliwung juga memprihatinkan. Sebanyak 7.000 ton sampah dibuang ke DAS setiap hari. Sampah-sampah di sungai ini ada yang mengendap dan merusak ekosistem sungai, serta ada yang mengalir hingga ke laut dan menyebabkan kerusakan lebih besar.

Membuang sampah ke sungai menimbulkan banyak masalah serius. Dampaknya antara lain mengurangi ketersediaan air bersih, sungai menjadi kotor dan bau, penumpukan sampah di dasar sungai, hingga terjadinya banjir akibat tumpukan sampah yang membuat daya tampung sungai berkurang.

  1. Sampah Tidak Dipilah

Memilah sampahĀ adalah kunci dalam pengelolaan sampah yang baik di tengah masyarakat. Namun, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki kebiasaan ini. Kebanyakan yang dilakukan adalah mencampur sampah-sampah baik di level pribadi, rumah tangga, atau perusahaan. Padahal pemilahan ini menjadi proses dasar, agar sampah tidak menimbulkan dampak merugikan.

Contoh nyata kesuksesan pemilahan sampah dapat dilihat di negara-negara dengan sistem pengelolaan sampah yang baik, seperti Jerman, Denmark, Swedia, Jepang, atau Korea Selatan.Ā 

Memilah sampah juga memiliki sejumlah manfaat seperti pemisahan sampah kering dan basah agar tidak tercampur. Sehingga memudahkan pembuangan dan pengolahan kembali. Kemudian memisahkan sampah organik dan anorganik, menghindari terjadinya penumpukan sampah, dan menjaga lingkungan sekitar.

Banyaknya praktek kebiasaan buruk membuang sampah memperlihatkan bahwa masih rendahnya kesadaranĀ  pentingnya mengelola sampah. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan dan kemauan yang tepat untuk mengubah kebiasaan itu.

Ketika setiap orang telah memiliki kesadaran terkait memperlakukan sampah, maka ini akan menjadi kebiasaan yang tepat. Masyarakat akan terbiasa untuk mengompos, memakai ulang, dan mendaur ulang setiap sampah mereka. Pada akhirnya, kebiasaan baru ini akan mengatasi permasalahan lingkungan yang diakibatkan dari kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Menu