Perubahan Iklim Meningkat, Direktur WHO Sebut Keadaan Darurat Masyarakat Dunia

Perubahan Iklim Meningkat, Direktur WHO Sebut Keadaan Darurat Masyarakat Dunia

Terdapat menara silinder 100 meter di antara blok apartemen di Xi’an, Cina. Menara tersebut terlihat seperti cerobong asap, tetapi memiliki tujuan yang sangat berbeda, yaitu menyaring udara kota. Beberapa contoh penyaring udara lainnya yang telah didirikan, diantaranya di Netherlands dan Polandia, penyaring tersebut telah dipasang disepanjang jalan Delhi dan Southampton.

Ide lain untuk menyaring udara adalah dengan menanam beberapa tumbuhan yang bereaksi dengan polusi udara, tapi menyaring udara di luar ruangan menjadi sulit semenjak polusi sudah tercampur dengan air. Ibaratnya seperti mencoba mengeluarkan susu dari teh.

Ally Lewis, Professor of Atmospheric Chemistry at York University, mengibaratkan “trying to air-condition a room with the roof off”, sehingga volume yang perlu kita filter sangat besar. Misalnya, jika Anda mengendarai mobil diesel khas yang dibuat antara tahun 2010 dan 2015 untuk jarak 8 km (sekitar 5 mil), akan mengeluarkan sekitar 9g nitrogen oksida.

Mengapa polusi udara menjadi masalah yang berkembang pesat?

Tidak ada yang lebih penting bagi kehidupan daripada bernafas. Seumur hidup, sekitar 250 juta liter udara melewati paru-paru. Udara beracun sekarang merupakan risiko lingkungan terbesar dari kematian dini, menjadi penyebab satu dari sembilan kematian. Sebagai contoh, membunuh 7 juta orang per tahun, jauh lebih banyak daripada HIV, TBC dan malaria. Maria Neira, The World Health Organisation Director yang berfokus pada polusi udara, mengungkapkan: “Ini adalah keadaan darurat kesehatan masyarakat global.”

Ketika suhu dunia mengalami peningkatan, banyak teknologi mesin yang terus memompa emisi kotor ke udara, disatu sisi separuh dunia tidak memiliki akses bahan bakar atau teknologi bersih, udara yang kita hirup tumbuh menjadi polusi yang berbahaya: sembilan dari sepuluh orang sekarang menghirup udara yang tercemar, sehingga membunuh 7 juta orang setiap tahun.

Dampak kesehatan dari polusi udara sangat serius – sepertiga kematian di dunia, seperti serangan stroke, kanker paru-paru dan penyakit jantung disebabkan oleh polusi udara. Tentunya polusi udara memiliki efek yang setara dengan perokok aktif, atau bisa dikatakan sama dengan orang yang terlalu banyak mengkonsumsi makanan mengandung garam.

Polusi udara sulit untuk dihindarkan, tidak peduli seberapa kaya daerah tempat Anda tinggal. Polusi udara akan tetap ada di sekitar kita. Polutan mikroskopis di udara dapat menyelinap melewati pertahanan tubuh kita, menembus jauh ke dalam sistem pernapasan dan peredaran darah kita, merusak paru-paru, jantung, dan otak kita.

Polusi udara terkait erat dengan perubahan iklim, pendorong utama perubahan iklim adalah pembakaran bahan bakar fosil yang juga merupakan penyumbang utama pencemaran udara. Bulan Oktober 2018 lalu, UN Intergovernmental Panel untuk Perubahan Iklim PBB memperingatkan bahwa listrik berbahan bakar batubara harus berakhir pada tahun 2050 jika kita ingin membatasi pemanasan global naik menjadi 1,5 °C. Jika tidak, kita akan mengalami krisis iklim besar dalam 20 tahun mendatang.

Dibentuklah Perjanjian Paris dengan tujuan memerangi perubahan iklim untuk menyelamatkan sekitar satu juta jiwa per tahun di seluruh dunia pada tahun 2050 dengan program pengurangan polusi udara. Dari sisi ekonomi tentunya perjanjian tersebut sangat efektif, mengatasi polusi udara bagi 15 negara yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca paling besar. Program ini diperkirakan menelan biaya lebih dari 4% dari GDP mereka.

“Biaya dari perubahan iklim dirasakan di beberapa rumah sakit. Beban kesehatan dari sumber-sumber energi yang berpolusi sekarang begitu tinggi, sehingga beralih ke pilihan yang lebih bersih dan berkelanjutan untuk pasokan energi, transportasi dan sistem pangan secara efektif menggunakan biaya sendiri, ” kata Dr Maria Neira, WHO Director of Public Health, Environmental and Social Determinants of Health.

Kurangnya kabut asap yang terlihat bukan merupakan indikasi bahwa udara sehat. Di seluruh dunia, baik kota maupun desa melihat polutan beracun di udara melebihi nilai rata-rata tahunan yang direkomendasikan oleh WHO’s air quality guidelines. Untuk membantu masyarakat dunia dalam memahami bagaimana kondisi polusi udara di tempat tinggal mereka, WHO, UN Environment and the Climate and Clean Air Coalition’s Breathe Life mengembangkan dan mensosialisasikan online pollution meter.

WHO dan para mitranya mengadakan Konferensi Global pertama tentang Polusi Udara dan Kesehatan di Jenewa pada 29 Oktober – 1 November 2018 untuk menggalang dunia menuju komitmen besar memerangi masalah perubahan iklim. Konferensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan tantangan kesehatan masyarakat dan berbagi informasi mengenai risiko kesehatan dari polusi udara dan intervensinya.

Konferensi tersebut juga menampilkan beberapa karya WHO tentang polusi udara, termasuk memperkenalkan Global Platform on Air Quality and Health. Platform tersebut memiliki anggota yang beragam termasuk peneliti, masyarakat sipil, badan PBB dan lembaga mitra lainnya untuk meninjau data tentang kualitas udara dan kesehatan.

Sebagai contoh, platform tersebut secara teknis bekerja lebih akurat dengan mengaitkan polusi udara. Platform tersebut juga bekerja dengan memperingatkan perkiraan kualitas udara dengan menggabungkan data dari berbagai jaringan pemantauan kualitas udara, atmospheric modelling dan satellite remote sensing.

(//www.theguardian.com/environment/2018/dec/20/pollutionwatch-why-cleaning-the-air-is-like-taking-milk-out-of-tea)

//www.who.int/air-pollution/news-and-events/how-air-pollution-is-destroying-our-health

 

Menu