Setiap tahun perusahaan mengeluarkan dana besar untuk program CSR. Laporan kegiatannya biasanya rapi, berisi jumlah dana yang disalurkan, jumlah penerima manfaat, dan dokumentasi foto yang bagus.
Namun pertanyaan yang makin sering muncul dari manajemen dan pemangku kepentingan tidak berhenti di situ. Berapa nilai nyata yang diciptakan program ini bagi masyarakat? Apakah manfaatnya sebanding dengan dana yang dikeluarkan?
Di sinilah SROI dipakai. Metode ini membantu perusahaan menjawab pertanyaan tersebut dengan angka yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar cerita kegiatan.
Artikel ini membahas pengertian SROI, prinsip dan tahapan perhitungannya, contoh perhitungan sederhana dalam rupiah, serta kesalahan yang membuat hasil SROI kehilangan kredibilitasnya.
Apa Itu SROI?
SROI adalah singkatan dari Social Return on Investment, sebuah kerangka untuk mengukur dan mempertanggungjawabkan nilai sosial, lingkungan, dan ekonomi yang diciptakan sebuah program dibandingkan dengan sumber daya yang diinvestasikan di dalamnya.
Metode ini dikembangkan dari panduan A Guide to Social Return on Investment yang diterbitkan Cabinet Office Inggris dan kini distandarkan oleh Social Value International (SVI). Inti metodenya adalah memberi nilai uang, melalui proksi finansial, pada perubahan yang dialami masyarakat, seperti pendapatan yang naik, kesehatan yang membaik, atau keterampilan baru yang menghasilkan penghasilan.
Hasil akhir SROI dinyatakan sebagai rasio. Rasio 3 banding 1 berarti setiap Rp1 yang diinvestasikan diperkirakan menciptakan nilai sosial sebesar Rp3. Perlu digarisbawahi, rasio ini adalah ringkasan. Nilai terpenting SROI justru terletak pada prosesnya, yaitu memahami perubahan apa yang terjadi, siapa yang mengalaminya, dan seberapa besar kontribusi program Anda terhadap perubahan itu.
Berdasarkan waktu pengerjaannya, SROI dibedakan menjadi dua jenis berikut.
1. SROI evaluatif.
Dihitung setelah program berjalan, menggunakan data perubahan yang benar-benar sudah terjadi di lapangan. Jenis ini cocok untuk menilai program CSR yang sudah selesai atau sudah berjalan minimal satu periode.
2. SROI prakiraan (forecast).
Dihitung sebelum atau saat program dirancang, untuk memperkirakan nilai sosial yang akan tercipta jika program mencapai hasil yang ditargetkan. Jenis ini berguna saat perusahaan memilih program mana yang layak didanai.
Kenapa Perusahaan Perlu Menghitung SROI Program CSR-nya?
- Menjawab tuntutan akuntabilitas TJSL dan CSR. Bagi perusahaan yang menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, SROI memberi bukti dampak yang lebih kuat daripada sekadar laporan penyerapan dana.
- Mendukung penilaian PROPER. Kinerja pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari penilaian PROPER beyond compliance, dan pengukuran dampak yang terstruktur memperkuat bukti kinerja tersebut.
- Menguatkan laporan keberlanjutan. Angka dampak yang terverifikasi membuat pengungkapan program sosial di laporan keberlanjutan lebih kredibel di mata investor dan regulator.
- Membantu keputusan anggaran. Dengan rasio dan peta dampak, manajemen bisa membandingkan program mana yang menciptakan nilai terbesar dan layak dilanjutkan, diperluas, atau diperbaiki.
Tujuh Prinsip SROI
Perhitungan SROI yang kredibel berdiri di atas tujuh prinsip dari panduan SVI berikut.
1. Libatkan pemangku kepentingan.
Masyarakat yang mengalami perubahan adalah sumber utama informasi tentang perubahan itu. Libatkan mereka sejak menentukan ruang lingkup sampai menilai hasil, bukan hanya sebagai objek survei di akhir program.
2. Pahami apa yang berubah.
Petakan semua perubahan yang dialami pemangku kepentingan, baik yang direncanakan maupun tidak, yang positif maupun negatif. Program yang hanya mencatat perubahan baiknya saja sedang menyembunyikan separuh cerita.
3. Nilai hal yang penting.
Berikan nilai uang pada perubahan yang terpenting bagi pemangku kepentingan menggunakan proksi finansial yang masuk akal, misalnya nilai pendapatan yang bertambah atau biaya layanan yang berhasil dihemat.
4. Hanya masukkan yang material.
Saring perubahan yang benar-benar signifikan dan relevan dengan keputusan yang akan diambil. Memasukkan semua hal kecil membuat analisis melebar dan rasio terlihat dibuat-buat.
5. Jangan mengklaim berlebihan.
Klaim hanya perubahan yang memang disebabkan oleh program Anda. Di sinilah penyesuaian seperti deadweight dan atribusi bekerja, sebagaimana dijelaskan pada tahap perhitungan.
6. Bersikap transparan.
Tunjukkan semua asumsi, sumber data, proksi finansial, dan keputusan yang diambil selama analisis. SROI yang tidak bisa ditelusur ulang langkahnya tidak layak dipercaya.
7. Verifikasi hasilnya.
Libatkan penelaahan independen atas data dan kesimpulan analisis, agar rasio yang dipublikasikan tidak hanya merupakan penilaian sepihak dari pelaksana program.
SVI kemudian menambahkan prinsip kedelapan, yaitu responsif, yang meminta organisasi benar-benar menindaklanjuti temuan perhitungannya dalam keputusan program berikutnya.
Enam Tahap Menghitung SROI
1. Tetapkan ruang lingkup dan identifikasi pemangku kepentingan.
Tentukan program yang dinilai, periode yang dicakup, dan untuk siapa analisis ini dibuat. Lalu daftarkan semua pihak yang mengalami perubahan karena program, dari penerima manfaat langsung sampai kelompok yang mungkin terdampak tidak langsung.
2. Petakan hasil melalui peta dampak.
Susun impact map yang menghubungkan input, output, dan outcome. Peta dampak ini adalah wujud praktis dari teori perubahan program, yaitu penjelasan logis tentang bagaimana kegiatan yang dibiayai menghasilkan perubahan bagi masyarakat. Bedakan ketiganya dengan tegas. Menyelenggarakan pelatihan adalah output, sedangkan peserta yang kemudian bekerja atau membuka usaha adalah outcome. Yang dinilai dalam SROI adalah outcome, bukan output.
3. Buktikan hasil dan beri nilai uang.
Kumpulkan data indikator untuk setiap outcome, misalnya jumlah peserta yang berpenghasilan dan besar kenaikan pendapatannya. Data ini dikumpulkan lewat wawancara, kuesioner, dan rekaman data program, bukan perkiraan sepihak pelaksana. Lalu tetapkan proksi finansial untuk menilai outcome tersebut dalam rupiah, dan tentukan berapa lama outcome itu bertahan.
Dua pendekatan yang umum dipakai untuk menetapkan proksi finansial adalah kesediaan membayar dan biaya yang berhasil dihindari. Kesediaan membayar adalah nilai yang bersedia dikeluarkan penerima manfaat untuk memperoleh manfaat yang setara. Biaya yang berhasil dihindari adalah pengeluaran yang tidak lagi perlu dikeluarkan karena perubahan itu terjadi, misalnya biaya berobat yang hilang karena warga menjadi lebih sehat, atau biaya layanan yang kini tidak perlu lagi dibeli pemerintah setempat. Proksi yang dipilih harus selalu bisa dijelaskan sumber dan alasannya.
4. Tetapkan dampak dengan penyesuaian.
Kurangi nilai outcome dengan empat penyesuaian berikut. Deadweight, yaitu perubahan yang tetap akan terjadi walaupun program tidak ada. Displacement, yaitu manfaat yang tergeser oleh kerugian di tempat lain. Atribusi, yaitu porsi perubahan yang sebenarnya merupakan kontribusi pihak lain. Drop-off, yaitu penurunan manfaat pada tahun-tahun berikutnya.
5. Hitung rasio SROI.
Jumlahkan nilai dampak semua outcome setelah penyesuaian, diskontokan ke nilai kini untuk outcome yang berlangsung beberapa tahun, lalu bagi dengan total nilai input. Uji hasilnya dengan analisis sensitivitas, yaitu mengubah asumsi kunci untuk melihat seberapa kokoh rasionya.
6. Laporkan, gunakan, dan tanamkan.
Sampaikan hasil beserta seluruh asumsinya kepada pemangku kepentingan, gunakan untuk memperbaiki desain program, dan jadikan pengukuran dampak sebagai kebiasaan tahunan, bukan proyek sekali jalan.
Contoh Perhitungan SROI Sederhana
Misalkan sebuah perusahaan menjalankan program pelatihan keterampilan untuk 20 warga di sekitar area operasinya dengan total investasi Rp50 juta. Setahun setelah pelatihan, 12 peserta terbukti bekerja atau membuka usaha dengan tambahan pendapatan rata-rata Rp1,5 juta per bulan.
Nilai outcome kotornya adalah 12 orang dikali Rp1,5 juta dikali 12 bulan, yaitu Rp216 juta per tahun. Angka ini belum boleh langsung diklaim. Terapkan penyesuaiannya. Misalkan deadweight ditetapkan 20 persen karena sebagian peserta diperkirakan akan mendapat penghasilan juga tanpa program, dan atribusi 25 persen karena ada kontribusi pelatihan pihak lain serta modal usaha dari keluarga.
Dampak bersih tahun pertama adalah Rp216 juta dikali 80 persen dikali 75 persen, hasilnya Rp129,6 juta. Rasio SROI-nya adalah Rp129,6 juta dibagi Rp50 juta, yaitu sekitar 2,6 banding 1. Artinya, setiap Rp1 yang diinvestasikan pada program ini menciptakan nilai sosial sekitar Rp2,6 pada tahun pertama.
Perhatikan bahwa contoh ini hanya menghitung satu outcome dan satu tahun. Analisis SROI yang lengkap biasanya memuat beberapa outcome, termasuk outcome negatif bila ada, dan memproyeksikan manfaat beberapa tahun dengan drop-off dan diskonto.
Kesalahan Umum yang Merusak Kredibilitas SROI
1. Melompat langsung ke rasio tanpa penyesuaian.
Rasio besar yang dihitung dari outcome kotor tanpa deadweight dan atribusi adalah klaim berlebihan. Sekali auditor atau pemangku kepentingan menelusurinya, kredibilitas seluruh laporan ikut runtuh.
2. Memakai proksi finansial yang asal.
Menilai outcome dengan angka yang tidak jelas sumbernya membuat hasil tidak bisa dipertahankan. Setiap proksi harus bisa dijelaskan alasannya dan dirujuk sumbernya.
3. Hanya menghitung perubahan positif.
Program hampir selalu memiliki dampak yang tidak diharapkan, misalnya kelompok yang tidak terjangkau atau ketergantungan baru. Mengabaikannya melanggar prinsip materialitas dan transparansi.
4. Berhenti pada angka akhir.
Rasio tanpa narasi tentang perubahan apa yang paling bernilai dan apa yang perlu diperbaiki adalah peluang yang terbuang. Temuan prosesnya sering lebih berguna bagi manajemen daripada rasionya sendiri.
Kesimpulan
SROI adalah cara paling terstruktur untuk membuktikan bahwa dana CSR perusahaan benar-benar berubah menjadi nilai bagi masyarakat. Kuncinya bukan mengejar rasio sebesar-besarnya, melainkan proses yang jujur, melibatkan pemangku kepentingan, memberi nilai pada perubahan yang material, dan tidak mengklaim melebihi kontribusi program.
Jika perusahaan Anda membutuhkan pendampingan pengukuran dampak program CSR atau TJSL, termasuk penyusunan SROI untuk kebutuhan PROPER dan laporan keberlanjutan, Indonesia Environment Consultant (IEC) siap membantu melalui layanan Konsultasi IEC.
FAQ
Apa beda SROI dengan laporan kegiatan CSR biasa?
Laporan kegiatan mencatat input dan output, yaitu dana yang keluar dan kegiatan yang terlaksana. SROI melangkah lebih jauh dengan menilai outcome yang dialami masyarakat dalam satuan uang dan membandingkannya dengan investasi, setelah dikurangi penyesuaian seperti deadweight dan atribusi.
Apa beda SROI dengan ROI?
ROI hanya membandingkan keuntungan finansial bagi investor dengan modal yang ditanam. SROI memperluas cara pandang itu ke nilai sosial dan lingkungan yang dialami masyarakat, dinilai dalam uang melalui proksi finansial dan disesuaikan dengan deadweight serta atribusi. Karena itu SROI dipakai untuk menilai program sosial dan CSR, bukan kelayakan investasi bisnis biasa.
Apakah rasio SROI yang baik harus besar?
Tidak ada ambang resmi. Rasio di atas 1 menunjukkan nilai yang diciptakan melampaui investasinya, tetapi rasio yang moderat dengan metodologi yang transparan jauh lebih kredibel daripada rasio besar yang tidak bisa ditelusuri.
Siapa yang sebaiknya menghitung SROI program perusahaan?
Tim internal yang memahami program dapat menyusunnya, dengan catatan mengikuti prinsip SVI. Untuk kebutuhan publikasi, PROPER, atau laporan keberlanjutan, penelaahan atau pendampingan pihak independen akan memperkuat kredibilitas hasilnya.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk satu analisis SROI?
Tergantung jumlah pemangku kepentingan dan ketersediaan data outcome. Program berskala kecil dengan data yang rapi umumnya dapat diselesaikan dalam beberapa minggu, sedangkan program multi-lokasi bisa memakan waktu beberapa bulan.
Referensi
- Dibimbing, Mengenal SROI untuk Mengukur Keberhasilan Dampak CSR, https://dibimbing.id/business/blog/detail/sroi-adalah
- SIDIA Impact, Apa Itu SROI dan Bagaimana Cara Menghitungnya?, https://www.sidiaimpact.com/id/artikel/apa-itu-sroi/
- Social Value International, A Guide to Social Return on Investment, https://socialvalueint.org


