Perairan Tercemar Polusi Bisa Dideteksi dari Hati Ikan

sumber foto: ebiologi.com
sumber foto: ebiologi.com

Guru besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Prof Djamar TF Lumban Batu, menyebutkan, hati ikan yang mengandung cytocrome p-450 (cty p-450) dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan polutan di lingkungan perairan.

“Organ yang mampu melindungi tubuh ikan dari xenobiotik adalah hati. Dalam hati, enzim yang mudah terdeteksi saat proses biotransformasi adalah cty p-450 yang mampu mendeteks polutan di lingkungan,” kata dia, di Bogor, Jawa Barat.

Ia menjelaskan, ikan memiliki kemampuan untuk melakukan biotransformasi, bioakumulasi dan detoksifikasi untuk menurunkan derajat toksisitas dari xenobiotik (obat-obatan, toksikan, steroid, karsionogen, mutagen, antigen, hormon, dan vitamin).

Namun ikan juga mampu membentuk metabolit yang lebih reaktif, mutagenik, karsinogenik, dan sangat beracun.

“Xenobiotik akan mempengaruhi produktivitas perikanan, kesehatan ekosistem, keamanan pangan, dan biomedis,” katanya.

Dari hasil penelitian yang dilakukannya selama 10 tahun dengan menggunakan landasan konsep aktivitas enzim penggerak metabolisme atas obat-obatan pada level sub-seluler.

Metode tersebut mampu mendeteksi kontaminan lingkungan melalui determinasi aktivitas enzim pada level sub-seluler dengan tingkat kepekaan hingga pmol (pico mol) yang tidak dapat ditera dengan menggunakan metode konvensional.

“Salah satu hasil riset membuktikan kandungan cyt p-450 pada ikan kakap dan kembung di perairan Teluk Jakarta lebih tinggi 46 persen dibandingkan dengan perairan Pelabuhan Ratu,” katanya.

Ia menjelaskan, arti dari penelitian tersebut yakni kualitas ikan di Pelabuhan Ratu lebih baik dari Teluk Jakarta.

Untuk pencegahan dan perlakuan terhadap penyakit infeksi pada ikan, lanjutnya, ada berbagai jenis antibiotik telah banyak digunakan pada budidaya perikanan. Residu antibiotik dalam tubuh ikan tersebut yang perlu diwaspadai.

“Karena kalau dikonsumsi manusia akan bersifat karsiogenik,” katanya.

Sementara itu, riset tentang biotransformasi pestisida juga dilakukan pada udang, hasilnya diketahui pembentukan metabolisme-metabolisme serta lintas-anjak metabolinya dan metabolite “oxon type”.

Ia menyebutkan, aktivitas enzim asetil kolin esterase (AcChe) menurun hingga nol pada sinapsis sehingga pengiriman impuls saraf terhenti dan inilah penyebab kematian udang.

Menurutnya, tingginya aktivitas enzim oksidatif desulfurase pada udang ternyata mampu melakukan konversi fenitrotion (FS) menjadi fenitrookson (FO).

“FO memiliki sifat toksisitas 20.000 kali lipat dibanding FS,” katanya.

Ia menambahkan, untuk mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya telah menemukan bahan kimia piperonil butoksida (PB) yang mampu menghambat pembentukan FO pada udang. PB mampu menghentikan aktivitas enzim oxidative desulfurase sehingga tidak terbentuk FO.

“PB mengaktifkan enzim AcChe secara konstan hingga 100 persen, artinya PB efektif untuk mencegah kematian udang di tambak,” katanya.

Sumber: tempo.co