Pertanian Adaptif Iklim

MUSIM kering kali ini terasa amat terik dan menyengat. Sinar matahari terasa membakar. Air permukaan di waduk, danau, embung, dan sawah terkuras, me ngering amat cepat. Di sejumlah tempat tanaman mati kering terbakar terik matahari. Perubahan dari suhu medium menjadi suhu tinggi, kering, dan gersang membuat kekeringan kali ini terasa luar biasa intensitasnya. Seiring dengan terjadinya El Nino moderat, periode dengan laju penguapan air amat tinggi ini akan berlangsung amat panjang: hingga Desember nanti. Air hujan satu-satunya sumber air untuk mempertahankan kelangsungan hidup masyarakat diperkirakan baru turun akhir tahun. Dari tiga sektor (municipal, pertanian, dan industri) pengguna air, pertanian akan paling terpukul oleh dampak kekeringan.

Aktivitas pertanian amat bergantung pada alam yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan teknologi. Ketika air tidak tersedia, kiamat kecil mengintai kehidupan petani. Mereka akan jatuh miskin apabila gantungan hidup satu-satunya itu puso. Kejadian berulang-ulang ini harus diputus siklusnya. Caranya ialah membangun sistem pertanian yang adaptif perubahan iklim.

Cara ini bisa dilakukan dengan upaya-upaya struktural ataupun nonstruktural. Upaya-upaya nonstruktural setidaknya ada lima langkah. Pertama, pemetaan komoditas sesuai iklim. Setiap tanaman, tidak terkecuali tanaman pangan, memer lukan kondisi tanah dan cuaca (baca: iklim) tertentu. Pemetaan komoditas sesuai iklim akan menjamin peluang produktivitas yang tinggi. Konsep ini sudah dikembangkan sejak zaman Hindia Belanda, sebelum isu perubahan iklim meruyak. Keberhasilan Thailand mengembangkan pertanian tidak lepas dari penerapan perwilayahan komoditas.

Kedua, mengembangkan aneka jenis dan varietas tanaman berumur genjah, berdaya hasil tinggi, dan toleran terhadap stres lingkungan, seperti kenaikan suhu udara, kekeringan, genangan (banjir), salinitas dan zat beracun, serta serangan aneka hama dan penyakit. Badan Litbang Kementerian Pertanian telah menghasilkan puluhan varietas padi, jagung, kedelai dan tanaman pangan lain yang genjah, berdaya hasil tinggi, tahan sejumlah hama dan penyakit, serta tak rakus hara. Pemerintah mesti memastikan aneka varietas itu diadopsi petani dengan menjamin ketersediaan dan lengkap informasinya.

Ketiga, aplikasi informasi iklim sebagai dasar menyusun perencanaan dan pengambilan keputusan. Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi memiliki jaringan stasiun iklim otomatis di tujuh provinsi sentra produksi pertanian. Data dari stasiun itu bisa diolah dalam bentuk informasi iklim, seperti perkiraan curah hujan, peta perkiraan musim kering, dan musim hujan. Dari informasi iklim ini dapat dihasilkan perkiraan curah hujan bulanan 3-6 bulan, musim kemarau atau musim hujan, sehingga bisa dipakai untuk merencanakan pola tanam. Informasi ini bisa diakses lewat internet (Gandasasmita et al, 2009). Bagaimana informasi penting ini bisa diakses atau bisa sampai ke petani sehingga bisa diterjemahkan dalam pola tanam? Sekolah lapang iklim bisa jadi medium efektif.

Keempat , mengembangkan teknologi pengolahan tanah dan tanaman untuk meningkatkan daya adaptasi tanaman. Teknologi tanpa olah tanah, misalnya, mampu mereduksi laju emisi gas metana 31,5%-63,4% ketimbang olah tanah sempurna. Irigasi berselang atau macak-macak, selain menghemat air, juga berperan dalam mereduksi emisi gas metana 34,3%-63,8% ketimbang digenangi terus-menerus (Las, 2007). Irigasi macak-macak, seperti pada praktik system of rice intensifi cation, bisa menghemat air luar biasa.

Kelima, mengembangkan sistem perlindungan usaha tani dari kegagalan akibat perubahan iklim (crop weather insurance). Sering kali teknologi budi daya yang tahan cekaman iklim sudah tersedia, tetapi tingkat adopsinya rendah. Penyebabnya, tidak ada jaminan teknologi baru itu bisa mengatasi cekaman iklim atau meningkatkan pendapatan petani. Praktik asuransi pertanian yang dirintis Kementerian Pertanian dipastikan akan mempercepat adopsi teknologi baru tahan cekaman iklim. Untuk meringankan petani, pemerintah bisa menyubsidi premi asuransi iklim itu agar adopsinya semakin cepat. Upaya-upaya nonstruktural ini penting tapi tidak cukup menjamin keberhasilan usaha tani, menjaga kesejahteraan petani dan memasti kan kecukupan pangan.

Di luar perubahan iklim, ada tiga ancaman nyata yang memengaruhi kemampuan Indonesia menyediakan pangan di masa depan: pertambahan jumlah penduduk yang tinggi, kemiskinan dan keguraman petani, dan konversi lahan pertanian ke nonpertanian yang tak terkendali. Boer et al (2009) menghitung, dengan asumsi laju konversi lahan 0,77% per tahun (30 ribu hektare per tahun) dan indeks pertanaman (IP) tak berubah menemukan total penurunan produksi padi di Jawa-jika dibandingkan dengan tingkat produksi akibat kenaikan suhu dan konversi lahan saat ini–mencapai 6 juta ton pada 2025 dan 12 juta ton pada 2050.

Jika tidak terjadi konversi lahan sawah, pengaruh negatif kenaikan suhu terhadap produksi padi di Jawa pada 2025 dan 2050 dapat dihilangkan dengan meningkatkan IP padi 10%-20% dan 20%-30% dari IP saat ini. Bila konversi lahan tetap berlangsung dengan kecepatan 0,77% per tahun, peningkatan IP dalam mengurangi dampak negatif kenaikan suhu tak terlalu efektif. Ini menunjukkan adaptasi iklim tidak cukup usaha struktural. Upaya-upaya struktural itu mencakup perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana, seperti saluran drainase, bangunan pengendali banjir, waduk dan sarana irigasi, pengembangan teknologi pemanenan air hujan (embung dan parit), rehabilitasi wilayah tutupan hujan, perluasan lahan baru, dan penghentian konversi lahan pertanian.

Upaya-upaya struktural dan nonstruktural untuk menjamin dua hal sekaligus. Pertama, memastikan aspek asupan (input) air dengan menjaga sumber-sumber air dengan mempertahankan luasan catchment area (hutan, dll), dan memberi kesempatan banyak air larian masuk ke tanah. Kedua, optimalisasi keluaran (output) atas air dengan mengembangkan jenis, komposisi, dan proporsi serta posisi komoditas yang diusahakan untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus menekan konfl ik air akibat kekeringan. Mengombinasikan usaha-usaha struktural dan nonstruktural memungkinkan kita membangun sistem pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim. Sistem pertanian semacam ini akan jadi perisai petani agar tak terlalu menderita akibat perubahan iklim.

sumber : http://perpustakaan.menlh.go.id/

Menu