pencemaran air disebabkan oleh

Pencemaran Air Kini Disebabkan Oleh Mikroplastik? Siapa Biang Keladinya?

Artikel

Beberapa waktu belakangan ini, isu mengenai pencemaran air yang disebabkan oleh partikel mikroplastik telah membuka mata banyak orang tentang potensi bahaya yang mengincar biota laut dan manusia akibat pembuangan sampah plastik ke laut. Sebagian besar plastik yang dibuang tidak mengalami daur ulang dan dibuang ke lingkungan akan berakhir di laut hingga menjadi sumber polusi di lautan.

Pemakaian kemasan plastik dan bahan-bahan lain yang mengandung plastik telah memicu penumpukan sampah plastik di lautan. Meskipun bersifat persisten, plastic tetap dapat terdegradasi menjadi partikel yang lebih kecil. Sampah plastik banyak ditemukan mengapung di laut, dapat terdegradasi oleh sinar ultraviolet, panas, mikroba, dan abrasi fisik menjadi serpihan plastik.

Fragment dari plastik yang terdegradasi sering disebut dengan mikroplastik, yang memiliki ukuran partikel kurang dari 5mm. Mikroplastik dapat terakumulasi dalam jumlah yang tinggi pada air laut dan sedimen. Ukuran mikroplastik yang sangat kecil dan jumlahnya yang banyak di lautan membuat sifatnya ubiquitous dan bioavailability bagi organisme akuatik tinggi. Akibatnya mikroplastik dapat termakan oleh biota laut.

Selain terkait dengan lingkungan, potensi ancaman pada kesehatan manusia juga menjadi perhatian terutama karena ukurannya yang kecil, dan kurangnya teknologi yang tersedia untuk mendeteksi keberadaan mikroplastik di lingkungan. Beberapa penelitian menemukan kandungan mikroplastik pada sejumlah hewan yang dikonsumsi oleh manusia Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai konsumsi plastik oleh manusia melalui konsumsi spesies laut yang terkontaminasi dengan mikroplastik sebagai makanan dan potensi efeknya pada kesehatan manusia.

Banyaknya sampah plastik di lautan Indonesia akan mengancam biota laut yang ada di dalamnya, tidak didukung dengan data tentang keberadaan mikroplastik pada seafood dari perairan Indonesia. Tingkat pencemaran laut di setiap daerah dapat berbeda-beda, termasuk cemaran mikroplastik yang berasal dari plastik yang terurai di lautan hingga berukuran mikron (1 – 5000 µm).

Namun, fakta mencengangkan diungkap melalui Penelitian Universitas Newcastle Inggris yang menyatakan pencemaran air yang disebabkan oleh mikroplastik tidak hanya terjadi akibat pembuangan sampah plastik ke laut, namun mesin cuci di rumah-rumah kita juga turut mengirim mikroplastik ke lautan. Setidaknya ada 800.000 mikroplastik yang dilepas tiap kali kita mencuci pakaian memakai mesin. Satu mesin cuci dengan volume penuh akan melepaskan 800.000 mikroplastik dan 1,4 juta unit serat halus dari pakaian berbahan nilon, poliester, dan akrilik. Tiga bahan utama pakaian itu kini paling banyak dijadikan bahan pakaian, terutama untuk pakaian luar ruangan, seperti pakaian olahraga karena cepat kering, ringan, dan mudah dicuci.

Industri tekstil memproduksi 40 juta ton baju sintetis setiap tahun. Naiknya tren berolahraga, berkembangnya kesadaran akan kesehatan, dan tingginya aktivitas di luar ruangan, membuat kebutuhan pakaian yang ringan dan menyerap keringat meningkat. Padahal, pakaian mikroplastik dari jenis ini gampang terlepas ketika dicuci. Dengan kamera berkecapatan tinggi, diketahui bahwa pelepasan mikroplastik dan serat halus tersebut terjadi ketika air menyiram pakaian dan mesin cuci memilinnya. Perpaduan air dan putaran mesin membuat mikroplastik terlepas dan lolos dari saringan mesin cuci lalu meluncur ke selokan, ke sungai, dan berakhir di lautan.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Technology pada September 2019 itu ditemukan bahwa mikroplastik makin banyak terlepas seiring volume pakaian yang dicuci. Jumlah mikroplastik makin banyak jika putaran drum mesin cuci semakin cepat. Maka selain menyarankan agar kita memakai kecepatan sedang ketika mencuci, ada baiknya juga kita untuk menghemat baju yang kita gunakan. Semakin sering kita membeli pakaian sintetis akan semakin banyak mikroplastik yang terbuang ke laut yang membahayakan lingkungan dan pada akhirnya membahayakan manusia.

Sumber:

mongabay.co.id

Kompasiana.com

repository.unika.ac.id

forestdigest.com

Menu
Open chat