kondisi udara

Mengungkap Kondisi Udara di Jakarta Saat Ini

Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Ariyanu, menyebutkan bahwa warga DKI Jakarta hanya memiliki 34 hari dalam setahun untuk bisa menikmati udara bersih minim polusi. Selain 34 hari tersebut, sebanyak 196 hari warga akan menikmati udara dengan kualitas tidak sehat dan sisanya kurang sehat.

Data tersebut juga selaras dengan hasil analisa Greenpeace Indonesia, organisasi yang berfokus pada lingkungan tersebut mencatat pada 2017, hari hijau atau bersih dari polusi hanya bisa dinikmati  selama 29 hari dan menikmati hari berstatus moderat atau mengarah ke polusi sebanyak 238 hari. Jika kita melihat ke tahun 2018, data hari dengan kualitas udara tidak sehat malah melonjak lebih dari dua kali lipat atau berada pada angka 247 hari.

Selama bulan Juni hingga awal Juli 2019 ini tercatat tingkat kualitas udara paling rendah berada di angka 140 AQI yang menandakan bahwa kualitasnya tidak sehat, sehingga masyarakat disarankan untuk selalu menggunakan masker saat berangkat kerja atau beraktivitas di luar ruangan.

Kualitas udara paling buruk terjadi pada tanggal 24 Juni 2019 dimana indeks kualitas udara mencapai angka 172 AQI yang berarti setiap orang mungkin akan mulai mengalami beberapa efek kesehatan yang merugikan dan kelompok sensitif mungkin akan mengalami efek yang lebih serius, masyarakat diwajibkan menggunakan masker saat beraktivitas.

Melihat data tersebut, Greenpeace menyatakan bahwa DKI Jakarta sudah seharusnya tidak mengabaikan kondisi tingkat kebersihan udara dan harus  memulai gerakan cepat untuk menekan permasalah polusi tersebut.

Jawaban Gubernur Anies

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut bahwa musim kemarau menjadi salah satu faktor yang bisa mempengaruhi kualitas udara di Jakarta. Ia mengingatkan warga Ibu Kota untuk mengantisipasi musim kemarau yang sedang berlangsung. Anies menyebut kemarau sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas udara Jakarta.

“Perlu saya sampaikan proyeksi cuaca di Indonesia, dan di Pulau Jawa, termasuk di Jakarta. Kita akan menghadapi musim kering, dan musim kering ini telah berkontribusi terhadap bagaimana kondisi kualitas udara di Jakarta,” ucap Anies kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (2/7).

Apa kata Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)?

BMKG menyatakan musim kemarau memang dapat membuat penurunan kualitas udara. Hal ini terjadi karena hujan yang berfungsi sebagai pembersih udara alami jarang turun saat musim kemarau melanda.

“Betul musim kemarau dapat berdampak pada penurunan kualitas udara, karena hujan sebagai pembersih udara alami semakin jarang turun di musim kemarau (MK), terlebih menjelang dan saat puncak MK, sehingga udara lebih kotor dari biasanya,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal, saat dihubungi, Selasa (2/7/2019) malam.

Herizal mencatat, hingga akhir Juni, deret hari tidak hujan berurutan (HTH) sudah terjadi lebih dari dua bulan di beberapa tempat di Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Selain itu, Herizal mengatakan, di musim kemarau, umumnya kelembapan udara rendah sehingga banyak debu berterbangan.

“Selama musim kemarau selain hujan jarang turun, kelembapan udara umumnya rendah, karena kelembapan udara rendah maka ikatan partikel tanah di permukaan bumi menjadi rapuh dan mudah diterbangkan angin, mengapung di udara terbuka sehingga udara menjadi lebih keruh dari biasanya.” sebutnya.

Herizal menyebut saat musim kemarau biasanya sering terbentuk lapisan inversi di pagi hari. Lapisan itu membuat seolah udara keruh terperangkap di dekat permukaan bumi.

“Udara keruh seolah terperangkap di dekat permukaan bumi dan sulit keluar menembus lapis atmosfer bebas,” sambungnya.

Selain musim kemarau, Herizal menyebut kondisi lalu lintas Jakarta yang padat kendaraan bermotor juga berdampak terhadap kualitas udara. Selain itu, keberadaan pabrik-pabrik di sekitar Jakarta menambah buruknya kualitas di Jakarta.

“Kombinasi faktor alam dan faktor antropogenik (aktivitas manusia) menyebabkan kualitas udara lebih buruk di musim kemarau,” sebutnya. (*)

Sumber:
https://www.airvisual.com/id/indonesia/jakarta
http://iku.menlhk.go.id/
https://www.suara.com/news/2019/07/03/074438/jakarta-darurat-polusi-udara-hari-ini-warga-disarankan-pakai-masker
https://news.detik.com/berita/d-4609116/anies-sebut-kemarau-pengaruhi-kualitas-udara-jakarta-ini-kata-bmkg

 

Menu