Matahari Sebagai Sumber Energi Dunia

Matahari adalah sumber energi yang memancarkan energi sangat besarnya ke permukaan bumi. Permeter persegi permukaan bumi menerima hingga 1000 watt energi matahari. Sekitar 30% energi tersebut dipantulkan kembali luar angkasa, dan sisanya diserap oleh awan, lautan, dan daratan. Untuk melukiskan besarnya potensi energi surya, energi surya yang diterima bumi dalam waktu satu jam saja setara dengan jumlah energi yang digunakan dunia selama satu tahun lebih.

Kebutuhan sel surya dunia terus meningkat, terutama setelah permasalahan lingkungan menjadi semakin parah akibat penggunaan energi fosil dan bencana nuklir.

Pemanfaatan sel surya dunia saat ini untuk membangkitkan listrik dengan skala besar, yang membutuhkan lahan terbuka luas.  Untuk membangkitkan listrik dari sel surya 1 MW membutuhkan lahan sekitar 2 hektar.

Di samping pada lahan terbuka, peluang pemanfaatan sel surya lain adalah atap rumah (rooftop) yang potensinya cukup besar.  Apabila di atap rumah dipasang sel surya dengan luas atap 20 meter persegi, dengan efisien 40 persen, dapat menghasilkan daya listrik sekitar 8000 watt (peak).  Daya listrik tersebut sudah mencukupi kebutuhan sebuah rumah mewah.  Permasalahannya sekarang adalah harga listrik dari panel surya masih lebih mahal daripada harga listrik yang berasal dari energi fosil.

Saat ini investasi untuk membangkitkan daya listrik sebesar 1 (satu) watt dari sel surya sekitar 2 dollar AS. Harga energi listrik yang dihasilkan kurang dari 20 sen dollar AS per kWh.  Dunia memprediksi bahwa pada 2030 harga listrik dari sel surya akan lebih murah dari harga listrik dari energi fosil.

Untuk pemakaian khusus, saat ini listrik dari sel surya sudah bisa lebih ekonomis, misalnya untuk penggunaan di daerah terpencil, sebagai pengganti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Salah satu cara untuk memanen radiasi panas dan cahaya yang dipancarkan matahari menjadi listrik adalah dengan memanfaatkan teknologi termal dan teknologi sel surya atau sel photovoltaic. Teknologi termal biasanya digunakan untuk mengeringkan hasil pertanian dan perikanan, memasak (kompor surya), dan memanaskan air. Sedangkan sel surya merupakan alat untuk mengonversi cahaya matahari menjadi energi listrik menggunakan efek fotoelektrik. Dengan teknologi sel surya (photovoltaic) energi surya diubah menjadi energi listrik yang bisa digunakan untuk berbagai hal.

Dengan potensinya yang sangat besar tersebut, energi surya diyakini menjadi sumber energi utama di masa depan. Apalagi dengan beberapa keunggulan energi surya seperti energi surya merupakan sumber yang hampir tak terbatas dan ramah lingkungan. Yang hingga kini masih menjadi kendala adalah teknologi sel surya dan media penyimpanan yang masih sangat mahal dan memiliki kemampuan yang terbatas.

Penggunaan sel surya di Indonesia sudah dimulai lebih dari 20 tahun lalu, dikenal dengan Program Solar Home System (SHS) yang dilakukan oleh BPPT dan beberapa kementerian. SHS dipasang di puluhan ribu rumah di pedesaan sebesar 50 Wp (watt peak), dengan gratis.  Juga, Program Desa Mandiri Energi dan program PLN 1.000 pulau, telah dibangun beberapa pembangkit listrik tenaga solar cell (PLTS), terutama di daerah atau di pulau terpencil.

Di samping itu, sudah ada beberapa daerah yang menggunakan panel surya untuk penerangan jalan.  Jadi, kebutuhan (pasar) domestik panel surya sudah cukup besar untuk dapat berkembangnya industri PV di Indonesia.  Tetapi,  saat ini sebagian besar kebutuhan domestik tersebut masih dipasok dari impor.

Dalam Kebijakan Energi Nasional yang baru (KEN-2050) dinyatakan bahwa pembangunan dan pemanfaatan energi terbarukan (termasuk energi surya) menjadi prioritas. Pada 2025, target bauran energi nasional minimal 23 persen berasal dari energi terbarukan dan pada 2050 minimal 31 persen.

Jika dilihat dari potensi dan besarnya kebutuhan nasional, besaran target tersebut bukanlah angka yang sulit dicapai, asal saja perencanaan dan penggunaan dana pemerintah dapat dimanfaatkan dengan efektif dan efisien, tidak lagi terjadi kebocoran dana dan inkonsistensi dalam kebijakan.

 Sebenarnya sudah banyak yang dilakukan pemerintah untuk pemanfaatan sel surya, yang sudah menghabiskan banyak dana dan upaya selama ini, tetapi belum berhasil seperti yang direncanakan. Ke depan diperlukan komitmen yang lebih kuat dan fokus dari semua pemangku kepentingan.

Dengan krisis energi dan listrik serta masih bergantungnya pada sumber energi konvensional, padahal sumber bahan bakar fosil semakin habis, Indonesia seharusnya mulai serius memanfaatkan energi surya. Mendorong penelitian-penelitian untuk meningkatkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya sehingga potensi 112.000 GWp energi surya yang dimiliki oleh Indonesia dapat dimanfaatkan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Memanen energi surya menjadi energi terbarukan yang murah, ramah lingkungan, dan menjangkau seluruh pelosok negeri.

Sumber : print.kompas.com, alamendah.org

Menu