5 Tips Supaya Bisa Jadi ‘Traveler’ Ramah Lingkungan

Walau berniat menikmati waktu santai, bukan berarti traveling  itu tak bertanggung jawab. Justru untuk beberapa pelancong, perjalanan bukan sedekar datang-senang-pulang. Melainkan jadi satu kegiatan untuk belajar lebih menghargai orang lain, serta punya rasa memiliki yang lebih tinggi akan alam. Alam di sini tak melulu gunung, hutan, maupun laut, tapi juga kota.

Bertandang ke ‘rumah kedua’, tentu harus punya rasa menghargai akan apa yang sudah ada sebelum kita datang. Manusia memang memberi dampak baik juga buruk bagi alam. Karenanya, kita harus meminimalisir segala kerusakan yang disebabkan oleh kehadiran manusia.

Simak dulu tips-tips berikut ini supaya bisa jadi traveler  ramah lingkungan.

Jangan beli berbagai barang dari laut. Mungkin kerang atau bintang laut terlihat cantik untuk dijadikan buah tangan. Tapi, kita harus pikirkan lagi kalau semakin tinggi permintaan pasar, maka semakin tak terkendali perburuan yang terjadi hanya untuk memenuhi keinginan konsumen.

Hindari tempat wisata yang memberi dampak buruk bagi biota laut.¬†Sebut saja pulau Menjangan Besar di Karimunjawa yang pada awalnya jadi tempat pelestarian hiu. Namun, atraksi berfoto dengan hiu yang jadi agenda wajib bagi sebagian besar pengunjung membuat pihak setempat sengaja menangkap hiu di laut lepas untuk ditaruh di ‘kolam’.

Membawa botol minuman sendiri. Bagi kita para pendaki, minum memang jadi satu cara untuk menjaga stamina. Tapi, daripada membeli air mineral kemasan bermaterial plastik yang sulit terurai, lebih baik kita bawa botol minum sendiri. Bebannya juga sama, bukan?

Gunakan produk ramah lingkungan. Kalau ke pantai, sebagian besar orang pasti akan memakai sunblock. Namun ada kandungan dalam sunblock yang berdampak buruk bagi koral. Sebaiknya, kita membeli produk bertuliskan biodegradable atau reef-friendly (ramah terhadap karang).

Hemat air. Berkenaan dengan poin ini memang tak hanya dilakukan ketika traveling. Namun buat kita yang tinggal di kota besar, air tak selalu jadi masalah utama. Berbeda dengan penduduk Karimunjawa yang hanya mendapat aliran air dari jam 6 sore hingga 6 pagi ketika listrik menyala.

Mengikuti tips-tips di atas, perjalanan akan terasa lebih nikmat karena bisa mengurangi segala dampak buruk atas kehadiran para turis. Menahan diri dan sadar kalau kita tak punya hak untuk merusak alam. Mengingat kembali satu papan di pulau Cemara Kecil,¬†Karimunjawa, yang bertuliskan “Jangan tinggalkan apapun kecuali langkah kaki. Jangan ambil apapun kecuali kenangan“.

sumber : www.bintang.com

Menu